Rabu, 09 Mei 2018

PRINSIP-PRINSIP PENDAMPINGAN DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT KELOMPOK USAHA (KONSEP, PRINSIP DAN PERANAN)

NAMA  : BAHARUDDIN
NIM       : 1342042001
MK        : STRATEGI PEMBERDAYAAN KELOMPOK USAHA (SPKU)


TUGAS I
MATA KULIAH: STRATEGI PEMBERDAYAAN KELOMPOK USAHA

TULISKAN PRINSIP-PRINSIP PENDAMPINGAN DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT KELOMPOK USAHA (KONSEP, PRINSIP DAN PERANAN)

A.          Konsep Pendampingan
Pendampingan dapat dipahami sebagai kegiatan pemberdayaan masyarakat dengan menempatkan tenaga pendamping sebagai fasilitator, komunikator, motivator dan dinamisator.Pada dasarnya, pendampingan merupakan upaya untuk menyertakan masyarakat dalam mengembangkan berbagai potensi sehingga mampu mencapai kualitas kehidupan yang lebih baik. Selain itu diarahkan untuk memfasilitasi proses pengambilan keputusan yang terkait dengan kebutuhan masyarakat, membangun kemampuan dalam meningkatkan pendapatan, melaksanakan usaha yang berskala bisnis serta mengembangkan perencanaan dan pelaksanaan kegiatan partisipatif.
B.           Prinsip Pendampingan
Prinsip-prinsippendampingandalamupayapemberdayaanmasyarakatmeliputi :
1.            Prinsip Spasial Lokal. Penguasaan dan pemahaman terhadap ruang, kondisi, potensi dan bahasa lokal dalam pemberdayaan masyarakat.
2.            Prinsip Berkelompok. Kelompok tumbuh dari, oleh dan untuk kepentingan masyarakat. Selain dengan anggota kelompoknya sendiri, kerja sama juga dikembangkan antara kelompok dan mitra kerja lainnya agar usaha mereka berkembang, meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan serta mampu membentuk kelembagaan ekonomi.
3.            Prinsip Keberlanjutan. Seluruh kegiatan penumbuhan dan pengembangan diorientasikan pada terciptanya sistem dan mekanisme yang mendukung pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan. Berbagai kegiatan yang dilakukan merupakan kegiatan yang memiliki potensi berlanjut di kemudian hari.
4.            Prinsip Kemandirian
Masyarakat diberi motivasi dan dorongan untuk berusaha atas dasar kemauan dan kemampuan mereka sendiri dan tidak selalu tergantung pada bantuan dari luar.
5.            Prinsip Kesatuan Keluarga
Masyarakat tumbuh dan berkembang sebagai satu kesatuan keluarga yang utuh. Kepala keluarga beserta anggota keluarganya merupakan pemacu dan pemicu kemajuan usaha.  Prinsip ini menuntut para pendamping untuk memberdayakan seluruh anggota keluarga masyarakat berperan serta dalam meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan.
6.            Prinsip Belajar Menemukan Sendiri.
Kelompok dalam masyarakat tumbuh dan berkembang atas dasar kemauan dan kemampuan mereka untuk belajar menemukan sendiri apa yang mereka butuhkan dan apa yang akan mereka kembangkan, termasuk upaya untuk mengubah penghidupan dan kehidupannya.
C.          Peranan Dasar Pendamping
Padadasarnya program pendampingan (tenaga pendamping) memiliki tiga peranan dasar antara lain :
1.            Penasehat Kelompok.
Pendamping berperan memberikan berbagai masukan dan pertimbangan yang diperlukan oleh kelompok dalam menghadapi masalah. Pendamping tidak memutuskan apa yang perlu dilakukan, akan tetapi kelompoklah yang nantinya membuat keputusan.
2.            Trainer Participatoris.
Pendamping memiliki peran memberikan berbagai kemampuan dasar yang diperlukan oleh kelompok seperti mengelola rapat, pembukuan, administrasi, memecahkan masalah, mengambil keputusan dan sebagainya.
3.            Link Person. Pendamping berperan sebagai penghubung masyarakat dengan lembaga-lembaga yang terkait (stakeholder) dan diperlukan bagi pengembangan kelompok.

TUGAS PEMBIMBINGAN KELOMPOK USAHA, PRINSIP-PRINSIP PEMBIMBINGAN DAN FUNGSI PEMBIMBINGAN

NAMA  : BAHARUDDIN
NIM       : 1342042001
MK        : STRATEGI PEMBERDAYAAN KELOMPOK USAHA (SPKU)

TUGAS II
MATA KULIAH: STRATEGI PEMBERDAYAAN KELOMPOK USAHA

MENCARI TUGAS PEMBIMBINGAN KELOMPOK USAHA, PRINSIP-PRINSIP PEMBIMBINGAN DAN FUNGSI PEMBIMBINGAN
A.    Tugas Pembimbingan
Tugas pembimbingan dalam kelompok usaha yaitu:
1.      Mengarahkan dalam melakukan usaha
2.      Memberikan motivasi agar dapat menimbulkan semangat berwirausaha
3.      Mengawal dan mengasistensikan pelaksanaan usaha bagi pemula
B.     Prinsip-prinsip pembimbingan
Prinsip-prinsip pembimbingan dalam kelompok usaha adalah:
1.      Bimbingan diperuntukkan bagi semua (guidance is for all). Prinsip ini berarti bahwa bimbingan diberikan kepada semua kelompok usaha, baik yang tidak bermasalah maupun yang bermasalah. Dalam hal ini pendekatan yang digunakan dalam bimbingan lebih bersifat preventif dan pengembangan dari pada penyembuhan (kuratif); dan lebih diutamakan teknik kelompok dari pada perseorangan (individual).
2.      Bimbingan sebagai proses individuasi. Setiap pelaku usaha bersifat unik (berbeda satu sama lainnya), dan melalui bimbingan dibantu untuk memaksimalkan perkembangan usahanya.  Prinsip ini juga berarti bahwa yang menjadi fokus sasaran bantuan adalah pengusaha, meskipun layanan bimbingannya menggunakan teknik kelompok.
3.      Bimbingan menekankan hal yang positif. Dalam kenyataan masih ada usaha yang memiliki persepsi yang negatif terhadap bimbingan, karena bimbingan dipandang sebagai satu cara yang menekan aspirasi. Sangat berbeda dengan pandangan tersebut, bimbingan sebenarnya merupakan proses bantuan yang menekankan kekuatan dan kesuksesan, karena bimbingan merupakan cara untuk membangun pandangan yang positif terhadap diri sendiri, memberikan dorongan, dan peluang untuk berkembang. 
4.      Bimbingan Merupakan Usaha Bersama. Bimbingan bukan hanya tugas atau tanggung jawab bersama. Mereka bekerja sebagai teamwork.
5.      Pengambilan Keputusan Merupakan Hal yang Esensial dalam Bimbingan. Bimbingan diarahkan untuk membantu pelaku agar dapat melakukan pilihan dan mengambil keputusan. Bimbingan mempunyai peranan untuk memberikan informasi dan nasihat kepada pelaku usaha, yang itu semua sangat penting baginya dalam mengambil keputusan. Kehidupan pelaku usaha diarahkan oleh tujuannya, dan bimbingan memfasilitasi pelaku usaha untuk mempertimbangkan, menyesuaikan diri, dan menyempurnakan tujuan melalui pengambilan keputusan yang tepat. Kemampuan untuk membuat pilihan secara tepat bukan kemampuan bawaan, tetapi kemampuan yang harus dikembangkan. Tujuan utama bimbingan adalah mengembangkan kemampuan pelaku usaha untuk memecahkan masalahnya dan mengambil keputusan. 
6.      Bimbingan Berlangsung dalam Berbagai Setting (Adegan) Kehidupan. Pemberian layanan bimbingan di lingkungan keluarga, perusahaan/industri, lembaga-lembaga pemerintah/swasta, dan masyarakat pada umumnya. Bidang layanan bimbingan pun bersifat multi aspek, yaitu meliputi aspek pribadi, sosial, pendidikan, dan pekerjaan.
C.    Fungsi pembimbingan
1.      Memerintah orang-orang (actuating)  
Merupakan kegiatan untuk memberikan komando atau instruksi kepada orang-orang agar mereka bekerja/melakukan tugasnya
2.      Membimbing atau memimpin (leading) 
Merupakan kegiatan untuk memberi contoh-contoh atau teladan, teknik, dan metode kerja untuk wirausaha.
3.      Mengarahkan kegiatan (directing) 
Berupa kegiatan untuk mengarahkan orang-orang dengan jalan memberikan petunjuk-petunjuk atau kebijaksanaan yang benar, jelas, dan tegas.
4.      Memberi dorongan (motivating)

Berupa kegiatan untuk memberikan pengertian kepada orang-orang agar mengerti motif-motif, alasan-alasan yang mendorong timbulnya kemauan untuk bekerja dengan baik.

STRATEGI MENDORONG IKLIM USAHA

NAMA  : BAHARUDDIN
NIM       : 1342042001
MK        : STRATEGI PEMBERDAYAAN KELOMPOK USAHA (SPKU)

TUGAS IV
STRATEGI MENDORONG IKLIM USAHA:
A.    Pendanaan
1.      Memperluas sumber pendanaan dan memfasilitasi usaha mikro, kecil dan menengah untuk dapat mengakses kredit perbankan dan lembaga keuangan selain bank.
2.      Memperbanyak lembaga pembiayaan dan memperluas jaringan sehingga dapat di akses usaha mikro, kecil dan menengah.
3.      Memberikan kemudahan dalam memperoleh pendanaan secara cepat, tepat, murah dan tidak diskriminatif dalam pelayanan sesuai dengan kekuatan perundang-undangan
4.      Membantu para pelaku usaha mikro dan usaha kecil untuk mendapatkan pembiayaan dan jasa/produk keuangan lainnya yang disediakan oleh perbankan dan lembaga keuangan bukan bank, baik yang mengunankan sistem konvensional maupun sistem syariah dengan jaminan yang disediakan oleh pemerintah.
B.     Sarana dan prasarana
1.      Mengadakan prasarana umum yang dapat mendorong dan mengembangkan pertumbuhan usaha mikro dan kecil
2.      Memberikan keringanan tariff prasarana tertentu bagi usaha mikro dan kecil
C.    Informasi usaha
1.      Membentuk dan mempermudah pemanfaatan bank data dan jaringan informasi bisnis
2.      Mengadakan dan menyebarluaskan informasi mengenai pasar, sumber pembiayaan, komoditas, penjaminan, desain dan teknologi dan mutu.
3.      Memberikan jaminan tranparansi dan akses yang sama bagi semua pelaku usaha mikro, kecil dan menengah dalam segala infomasi usaha.
D.    Kemitraan
1.      Mewujudkan kemitraan antar usaha mikro, kecil dan menengah
2.      Mewujudkan kemitraan antara usaha mikro, kecil dan menengah dan usaha besar
3.      Mendorong terjadinya hubungan yang saling menguntungkan dalam pelaksanaan transaksi usaha antara usaha mikro, kecil dan menengah
4.      Mendorong terjadinya hubungan yang saling menguntungkan dalam pelaksanaan transaksi usaha antara usaha mikro, kecil, menengah dan usaha besar.
5.      Mengemangkan kerja sama untuk meningkatkan posisi tawar usaha mikro, kecil dan menengah.
6.      Mendorong terbentuknya struktur pasar yang menjamin tumbuhnya persaingan usaha yang sehat dan melindungi konsumen
7.      Mencegah terjadinya penguasaan pasar dan pemusatan usaha oleh orang perorangan atau kelompok tertentu yang merugikan usaha mikro, kecil dan menengah
E.     Perizinan usaha
1.      Menyederhanakan tata cara dan jenis perizinan usaha dengan sistem pelayanan terpadu satu pintu
2.      Membebaskan biaya perizinan bagi usaha mikro, dan memberikan keringanan biaya perizinan bagi usaha kecil.
F.     Kesempatan berusaha
1.      Menentukan peruntukan tempat usaha yang meliputi pemberian lokasi di pasar, ruang pertokoan, lokasi sentra industry, lokasi pertanian rakyat,, okasi pertambangan rakyat, lokasi wajar bagi pedagang kaki ima serta lokasi lainnya.
2.      Menentapkan alokasi waktu berusaha untuk usaha mikro dan kecil di subsector perdagangan retail.
3.      Mencadangkan bidang dan jenis kegiatan usaha yang memiliki kekhususan proses, bersifat padat karya serta mempunyai warisan budaya yang bersifat khusus dan turun temurun.
4.      Menetapkan bidang usaha yang di cadangkan untuk usaha mikro, kecil dan menengah serta bidang usaha yang terbuka untuk usaha besar dengan syarat harus bekerja sama dengan usaha mikro, kecil dan menengah.
5.      Meindungi usaha tertentu yang strategis untuk usaha mikro, kecil dan menengah
6.      Mengutamakan pengunaan produk yang di hasilkan oleh usaha mikro, kecil melalui pengadaan secara langsung
7.      Memprioritaskan pengadaan barang atau jasa dan pemborongan kerja pemerintah dan pemerintah daerah
8.      Memberikan bantuan konsultasi hukum dan pembelaan.
G.    Promosi dagang
1.      Meningkatkan promosi produk usaha mikro, kecil dan menengah di dalam maupun di luar negeri.
2.      Memperluas sumber pedanaan untuk promosi produk usaha mikro, kecil dan menengah di dalam maupun di luar negeri
3.      Memberikan insentif dan tata cara pemberian insentif untuk usaha mikro, kecil dan menengah yang mampu menyediakan pendanaan secara mandiri dalam kegiatan promosi produk di dalam maupun di luar negeri
4.      Memfasilitasi pemilikan hak dan kekayaan inteletual atas produk dan desain usaha mikro, kecil dan menengah dalam kegiatan usaha dalam negeri dan ekspor.
H.    Dukungan kelembagaan
Dukungan kelembagaan ditujukan untuk mengembangkan dan meningkatkan fungsi ingkubator, lembaga pelayanan pengembangan usaha, konsultan keungan mitra bank, dan lembaga profesi sejenis lainnya sebagai lembaga pendukung pengembangan usaha mikro, kecil dan menengah.


Jumat, 17 Juni 2016

LAPORAN HASIL UJI COBA MODEL PEMBELAJARAN (MODEL PEMBELAJARAN MENGGUNAKAN PERMAINAN TEKA-TEKI SILANG TERHADAP ANAK )

LAPORAN HASIL UJI COBA MODEL PEMBELAJARAN
(MODEL PEMBELAJARAN MENGGUNAKAN PERMAINAN TEKA-TEKI SILANG  TERHADAP ANAK )







Oleh :
Kelompok 4
ASWAR MARMO
BAHARUDDIN
DARUL IRSYAD CHAIRAN
HARMAN
SURYANI





JURUSAN PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
2016


BAB 1
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
 Salah satu program pendidikan dalam masyarakat yang paling efektif dilakukan adalah program pemberantasan buta aksara. Bagi mereka yang telah tidak lagi buta aksara, putus sekolah atau tamat sekolah tetapi tidak melanjutkan, perlu disediakan suatu program agar dapat meningkatkan kemampuan pengetahuan, keterampilan, dan memperluas wawasan sebagai bekal untuk mengembangkan diri, bekerja, atau berusaha secara mandiri. Keberadaan program pemberantasan buta aksara sangat penting sebagai sarana belajar masyarakat. Dengan demikian, sebagai sarana yang diharapkan dapat menjadi pembina dalam kegiatan pemberantasan buta aksara dan dapat memanfaatkan makalah ini sebagai sumber yang baik.
Sesuai dengan amanat UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang diikuti oleh PP No. 19 Tahun 2005, serta UU Guru dan Dosen, bahwa guru sebagai sebuah profesi harus memenuhi beberapa kompetensi. Salah satu elemen kompetensi yang harus melekat pada profesi guru tercakup dalam rumpun kompetensi sosial yaitu kemampuan pendidik/guru sebagai bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar. Dengan demikian, agar guru sebagai pendidik memiliki kemampuan yang diamanatkan dalam UU dan PP tersebut, maka diperlukan sebuah kegiatan bagi guru yang sedang mengikuti pendidikan S1 untuk melatih keterampilan mereka dalam berkehidupan sosial serta memberikan kontribusi dalam masyarakat di lingkungannya.
Walaupun sudah menjadi guru yang tentunya sudah mempunyai prior knowledge tentang ke-SD-an, namun agar kompetensi sosial sebagai seorang pendidik berkembang, maka diperlukan pengasahan lebih lanjut terutama dalam hal mempraktekkan konsep-konsep metodik pedagogik yang dipelajari dalam masyarakat. Salah satu bentuk kegiatan yang sesuai untuk mengembangkan kompetensi tersebut adalah program pemberantasan buta huruf.
B.     Rumusan Masalah
Bagai mana cara belajar anak menggunakan metode teka-teki silang tersebut ?





















BAB II
KAJIAN PUSTAKA
Menurut Parsons, ide mnegenai kehidupan sosial sebagai suatu sistem – suatu jaringan dari bagian yang berbeda-beda menjelaskan bagian struktural darilabel fungsionalis struktural yang selalu dikaitkan dengan karyanya. Lebih lanjut,analogi mengenai sebuah sistem menjelaskan bagian “fungsionalis”nya.
            Jikalau kita menyebut tubuh manusia sebagai suatu sistem, hal itu bisa dilihat sebagaisesuatu yang memiliki kebutuhan-kebutuhan tertentu, misalnya kebutuhanmakanan dan sejumlah bagian-bagian yang saling berhubungan (sistem pencernaan, perut, intesines, dan lain-lain) yang fungsinya adalah menemukankebutuhan-kebutuhan itu. sistem sosial dari tindakan dilihat oleh Parson sebagaisesuatu yang mempunyai kebutuhan yang harus dipenuhi kalau mau hidup dansejumlah bagian-bagian yanbg berfungsi untuk menemukan kebutuhan-kebutuhanitu.      semua sistem yang hidup dilihat sebagai sesuatu yang cenderung mengarahkepada keseimbangan, suatu hubungan yang stabil dan seimbang antara bagian-  bagian yang terpisah dan mempertahankan dirinya secara terpisah dari sistem-sistem lain.Ada sebuah tradisi dalam pemikiran sosiologi yang lazim disebutfungsionalisme ‘fungsionalisme struktur, analisis fungsionalis. Kebaikan yang bersifat relatif dari tradisi fungsionalisme bukan hanya diperdebatkan tetapi jugasering mendapat kritik mendasar yang merusakkan. Walaupun demikian, tradisitersebut masih dipegang teguh oleh para pengikutnya.
 Gagasan-gagasan inti dari fungsionalisme ialah perspektif holistis, yaitusumbangan-sumbangan yang diberikan oleh bagian-bagian demi tercapainyatujuan-tujuan dari keseluruhan, kontinuitas dan keserasan dan tata berlandaskanconsensus mengenai nilai-nilai fundamental.Fungsionalisme struktural bermaksud menjadi suatu teori umum mengenaimasyarakat yang tidak begitu membenarkan kapitalisme (walaupun sering terjadi justeru membenarkan).





















BAB III
RANCANGAN MODEL PROSES PENERIMAAN INOVASI

1.      Tahap pengetahuan
Pengetahuan  anak masih tehitung minim sehngga perlu diterapkan metode pembelajaran teka-teki silang untuk membantu anak agar bisa membaca, menulis dan menghitung.
2.      Tahap Persuasi
Informasi yang saya berikan kepada si peserta didik tersebut di terimah dengan baik, karena sangat menyukai model pembelajarannya.
3.      Tahap keputusan
a)      Di Tolak
Model inovasi ini tidak diterima oleh sipeswerta didik  karena peserta didik  lebih model pembelajaran kurang baik..
b)      Di Terima
Model inovasi ini di terimah si pedagang karena menganggap ini adalah sebuah pembelajaran yang baik bagi peserta didik.
4.      Tahap Konfirmasi
Setelah inovasi di terapkan  saya terus melakukan pelaksanaan dan pengawasan terhadap perilaku peserta didik tersersebut.
















BAB  IV
DESAIN MODEL PEMBELAJARAN

 







A.    TUTOR
Tutor adalah orang yg memberi pelajaran (membimbing) kpd seseorang atau sejumlah kecil siswa dalam pelajarannya;(Dedy Sugono, 2008:1022). Tutor adalah orang yang membelajarkan atau orang yang memfasilitasi proses pembelajaran di kelompok belajar ;(Chairudin Samosir, 2006:15).Pengertian tutor banyak dikemukakan oleh ahli pendidikan, seperti yang dikemukakan oleh Nasution (1992:4) (dalam Abi Masiku (2003:9)) bahwa tutor adalah orang yang membantu murid secara individual.
Pengajaran tutoring merupakan pengajaran melalui kelompok yang terdiri atas satu siswa dan satu pengajar (tutor, mentor) atau boleh jadi seorang siswa mampu memegang tugas sebagai mentor, bahkan sampai taraf tertentu dapat menjadi tutor (Winkel, 1996:401).


B.     strategi pembelajarannya

1.  Diskusi: Tutor dan warga belajar berdiskusi dengan menggunakan bahasa daerah atau bahasa sehari-harinya dengan tujuan untuk merangsang ide, pengetahuan, pengalaman yang sudah dimiliki peserta didik dan permasalahan yang ada di sekitarnya, sehingga dapat diungkapkan dengan baik.
2.      Membaca : Tutor membantu peserta didik meningkatkan keterampilan membaca yang bertepatan, kelancaran dan pemahaman. peserta didik yang buta huruf, belajar melalui teknik pembelajaran teka teki silang.
3.      Menulis : Tutor membantu peserta didik menulis berdasarkan pikiran / ide sendiri
4. Berhitung : Tutor membantu peserta didik meningkatkan keterampilan   berhitung  dengan menggunakan teka teki silang peserta didik mampu menanggap dengan cepat apa yang di berikan.

C.    Metode pembelajaran
Metode yang digunakan yaitu :
2. Metode Abjad
Metode abjad merupakan metode pembelajaran yang menggunakan media papan tulis” papan tulis  digunakan sebagai media pembelajaran untuk membantu peserta didik mengerti bagaimana cara mengingat huruf, ejaan, dan kata-kata baru.
D.  penerapan
Dalam proses penerapan yang perlu diperhatikan adalah sebuah suasana yang baik, oleh karena itu saya menerapkan sebuah inovasi yang tidak tidak membuat si peserta didik  ini menjadi jengkel ataupun marah ketika saya berdiskusi .


E.     EVALUASI
     Hal yang perlu di perharikan dalam menentukan keberhasilan adalah bagaimana si peserta didik  ini dapat menerima inovasi atau masukan-masukan dengan baik,  yang telah saya berikan kepada sipenerima inovasi.

BAB V
HASIL UJI COBA DAN PEMBAHASAN

A.    Dekripsi Lokasi Kegiatan
Pengembangan model pembelajaran menggunakan teka teki terhadap peserta didik yang kami laksanakan di monument emi selan .  Namun kegiatan pembelajarannya kami laksanakan disalah satu rumah peserta didik  yaitu di dekat masjid btn emi saelan. Yang berjarak kira- kira 40 meter dari tempat dilaksanakannya pembelajaran tersebut.

  1. Penerapan Model Pembelajaran
-          TahapPengetahuan
Pengetahuan dari penerima inovas Iterbilang dapat dipahami
-          TahapPersusasi
Dengan inivasi kami tawarkan kepada peserta didik dia berminat untuk belajar.
-          TahapKeputusan
·         Di terima
Model inovasi yang saya berikan di terimah oleh peserta didik.
TahapKonfirmasi
setelah saya menawarkan inovvasi tersebut dia menirna inovasi tersebut dan melanjutkan pembelajaran tersebut.




BAB VI
PEMBAHASAN
  1. Model/Rancangan Pembelajaran
1
p
2
A
3
D
4
I
2
A

3
D

4
I


Pertanyaan :
Apa yang biasa di tanam di sawah ?

B.     Penerapan Model Pembelajaran
Hasil uji coba dari penerapan model pembelajaran menggunakan teka- teki silang  sebagai model pembelajran terhadap  peserta didik , antusias dari peserta didik  sangat baik karena keingin belajar mereka sangat tinggi, langkah pertama yang kami gunakann dalam proses penerapan ini yaitu dimana tutor tidak menempatkan dirinya sebagai guru melainka sebagai teman belajar untuk peserta didik . Dengan cara tersebut warga belajar tidak merasa diajarkan namun mereka seakan berbagai pengalaman saja. Dengan hal tersebut peserta didik  tidak akan sungkan untuk bertanya apa yang mereka tidak tau.
Selanjutnya adalah perkenalan model, dimana dalam perkenalan model tutor menghubungka model pembelajaran dengan kegiatan sehari-hari peserta didik dengan menggunakan teka- teki silang  dimana daerah yang kami tempati untuk penerapan model tersebut kebanyakan anak-anak setara SD.
Adapun media yang kami gunakan adalah papan tulis yang dimana kami menggambar beberapa kotak-kotak yang terhubung satu sama lain, dan menanyakan satu persatu peserta didik tentang pertanyaan yang sudah kami rancang tersebut. Kemudian peserta didik menghitung, membaca, dan menulis di papan tulis dan di kotak yang telah di sediakan tersebut.












BAB VII
PENUTUP
a.    Kesimpulan
Dari hasil pembelajaran model yang telah kami terapkan peserta didik kini sudah mampu mengenal huruf dan angka, keterbatasan waktu dalam proses penerapan model ini, sehingga warga belajar belum mendapatkan pembelajaran secara maksimal untuk menunjang cara menghitung,menulis dan membaca yang baik dan benar.
b.      Saran
Semoga dengan adanya model pembelajaran menggunakan teka teki silang sebagai pengantar pada peserta didik.  mampu melanjutkan apa yang telah kami laksanakan sehingga warga belajar bisa mendapatkan pembelajaran yang maksimal untuk menunjang kehidupan mereka.












BAB VIII
DOKUMENTASI
Description: G:\DCIM\Camera\IMG20160524143110.jpg
SEDANG MEMPERHATIKAN PESERTA DIDIK MENULIS

Description: G:\DCIM\Camera\IMG20160524143202.jpg
PESERTA DIDIK MENULIS
Description: G:\DCIM\Camera\IMG20160524143400.jpg
MODEL PEMBELAJARAN
Description: G:\DCIM\Camera\IMG20160524143427.jpg

FOTO BERSAMA PESERTA DIDIK